Kamis, 30 Mei 2013

Anak Beriman Se-Kutoarjo Di Wisuda

Sebanyak 1012 siswa-siswi kelas VI Sekolah Dasar (SD) se UPT Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kutoarjo, mengikuti wisuda Anak Beriman dan Berkepribadian Tahun Ajaran 2012/2013. Wisuda dilaksanakan di Pendopo Wakil Bupati di Kutoarjo, Kamis(30/5).

Sebanyak 1012 siswa-siswi kelas VI Sekolah Dasar (SD) se UPT Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kutoarjo, mengikuti wisuda Anak Beriman dan Berkepribadian Tahun Ajaran 2012/2013. Wisuda dilaksanakan di Pendopo Wakil Bupati di Kutoarjo, Kamis(30/5).

 Wisuda tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat secara simbolis oleh Wakil Bupati Purworejo Suhar didampingi oleh Camat Kutoarjo Sudaryono Ssos dan Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo yang diwakili oleh Winanto MPd. Hadir dalam acara wisuda antara lain, dari Kementerian Agama Kabupaten Purworejo, para Penilik/Pengawas SD UPT P dan K Kutoarjo dan para guru pembimbing/ guru agama masing-masing sekolah.

Wakil Bupati Purworejo dalam sambutannya menyampaikan selamat dan rasa bangga atas diwisudanya anak-anak hingga mencapai prestasi. Ini semua tidak lepas dari usaha bapak/ibu guru dalam memberikan bimbingan bagi generasi muda yang kita harapkan sebagai generasi penerus masa depan bangsa.

Disampaikan pula, daerah Purworejo merupakan daerah yang agamis dan buktinya setiap tahun akhir ajaran selalu dilaksanakan wisuda anak beriman untuk kelas VI SD. “Dan ini juga merupakan salah satu wujud kepedulian Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk terus melaksanakan program pendidikan anak soleh yang sudah dicanangkan sejak tahun 2002, dimana ini merupakan bentuk pendidikan karakter,” katanya.  


Rabu, 29 Mei 2013

Keluarga Korban Tragedi Pantai Jatimalang : “Nabila, Dimana Kau Nak?”

Nabila Dian Varekha (12) siswi kelas 6 SD Sebomenggalan Purworejo adalah salah satu korban keganasan ombak  Pantai Jatimalang Sabtu (25/5) lalu. Hingga memasuki hari ke- enam ini keberadaan bocah warga kampung Brengkelan RT 5 RW 6 Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Purworejo ini belum diketahui .

Berbagai upaya pencarian sudah dilakukan oleh Tim SAR Purworejo dan pihak keluarga. Namun demikian belum juga membuahkan hasil. Belum ada titik terang apakah Nabila masih hidup atau sudah tidak bernyawa. Menurut orang tua Nabila, Anton Susilo Budiyanto (45) dan Yusela Dwi Maharani (40), salah satu upaya yang dilakukan keluarga adalah setiap menggelar mujahadah dan doa bersama dirumahnya.

Untuk mengetahui keberadaan Nabila pihak keluarga juga mengaku sudah melibatkan “orang pintar” dan paranormal. “Sampai saat ini perwakilan keluarga juga terus memantau perkembangan di Pantai Jatimalang,” ungkap Anton. Dituturkan Anton, selain untuk berlibur, tujuan datang Pantai Jatimalang juga akan dimanfaatkan untuk terapi Galuh Kintaka Wahyutama (9), adik Nabila yang sedang menderita batuk dan sesak nafas. 

Beberapa hari sebelum berangkat ke Pantai Jatimalang tidak ada firasat sedikitpun. Hanya saja Nabila sangat bersemangat dan tak sabar ingin segera ke laut. “Karena itulah dengan memanfaatkan hari libur nasional, selepas subuh kami pergi ke Pantai Jatimalang menggunakan sepeda motor,” ucapnya.  Anton mejelaskan, saat kejadian Nabila tidak sedang mandi di laut, melainkan bersama rombongan pengunjung yang terapi laut dengan memendam kaki di pasir pantai.

Nabila waktu itu sedang bermain pasir dengan adiknya. Tiba-tiba saja datang ombak besar dan langsung menggulung pengunjung yang sedang terapi, tak terkecuali Nabila dan Galuh yang waktu itu posisinya jauh dari bibir pantai. Melihat kedua anaknya tergulung ombak, dengan spontan Anton dan istrinya berusaha memberi pertolongan. Galuh berhasil diselamatkan ibunya, sementara Nabila tidak. Padahal, waktu itu tangan Nabila sudah berhasil diraih oleh Anton.

Namun entah mengapa waktu itu Anton mengaku seperti ada kekuatan lain yang begitu kuat menarik anaknya ke tengah laut sehingga dirinya tak mampu mempertahankan Nabila. Akibatnya Anton dan istrinya hanya bisa termangu memandangi buah hatinya terseret ombak sambil menangis meminta pertolongan.

Kepergian Nabila dengan cara mengenaskan tersebut tidak saja membuat keluarga merasa kehilangan yang teramat dalam. Namun rasa kehilangan juga dirasakan oleh para tetangga dan teman sekolah Nabila. Apalagi selama ini Nabila terkenal sebagai anak yang mudah bergaul dan rajin mengaji. Sebab  itu tidak mengherankan jika hingga kini rumah Nabila banyak dikunjungi warga untuk sekedar mengucapkan keprihatinan.


Seperti pernah diberitakan beberapa waktu lalu, kejadian tragis Pantai Jatimalang Sabtu (25/5) sekitar pukul 6.30 WIB mengakibatkan empat pengunjung tewas dan dua lainya hilang. Korban meninggal dunia adalah Sunarko (64) dan istrinya Sri Wahyuningsih (54) warga Desa semagung RT 4 RW 3, Kecamatan Bagelen, Sri Utami (53) warga Desa Wirun RT 1 RW 2, Kecamatan Kutoarjo dan Habib Fikri warga Lugosobo, Kecamatan gebang. Sedang dua korban hilang Eliyana Agustin (19) warga Desa Wirun RT 1 RW 2, Kecamatan Kutoarjo yang merupakan anak Sri Utami serta Nabila Dian Varekha (12) warga Kampung Brengkelan RT 5 RW 6 Kelurahaan/Kecamatan Purworejo.


Guru TK Dan PAUD Ikuti Seminar Pendidikan

Upaya Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (DPC GOPTKI) Kabupaten Purworejo, untuk meningkatkan kualitas guru TK dan pendidik PAUD terus dilakukan. Diantaranya menyelenggarakan seminar pendidikan berwawasan lingkungan dan peningkatan kesepahaman PAUD, yang dibuka Sekda Purworejo di pendopo kabupaten Purworejo, Selasa (28/5).

Hadir dalam seminar tersebut Ketua IGTKI-PGRI Provinsi Jateng, Nasional Manajer TK PT Intan Pariwara Klaten, Ketua DPC GOPTKI Purworejo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Bapeda, dan dinas instansi terkait. Seminar pendidikan yang diikuti 450 peserta itu, juga sekaligus dalam rangka peringatan HUT GOPTKI ke-56.

Ketua DPC GOPTKI Kabupaten Purworejo Ny Sri Yuni Astuti Tri Handoyo mengharapkan agar guru TK dan Pendidik PAUD dapat menanamkan pengenalan lingkungan sejak di PAUD dan TK. Sehingga timbul rasa cinta lingkungan untuk ikut berperan serta memiliki kepedulian lingkungan. Disamping itu guru TK dan pendidik PAUD diharapkan memiliki satu kesepahaman dalam menerapkan pendidikan, meskipun dengan inovasi dan kreatifitas yang berbeda.

Sekda Purworejo Drs Tri Handoyo MM yang mewakil bupati mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fase pendidikan yang sangat penting. Sebelum anak-anak mendapatkan pelajaran di jenjang berikutnya yang lebih tinggi, masa-masa usia dini adalah masa dimana setiap anak belajar dengan melihat dan mendengar langsung dari guru atau siapapun yang menjadi panutannya. “Oleh sebab itu, untuk membentuk mental anak-anak yang berkualitas diusia dini, maka harus didukung pula oleh guru-guru yang berkualitas pula,” katanya.

Ketua IGTKI-PGRI Provinsi Jawa Tengah Suliyem SPdAUD selaku narasumber menguraikan tentang pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar anak usia dini. Lingkungan yang dimanfaatkan sebagai sumber belajar diantaranya lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. 

Dalam melakukan pembelajaran tidak harus diruang kelas tetapi juga harus dibiasakan juga diluar kelas.
“Ajaklah anak-anak keluar kelas untuk mengenal lingkungan, misalnya anak diajak mencari daun yang jatuh kemudian daunnya dihitung. Ini membentuk perilaku bersih sehat dalam lingkungan sekaligus anak belajar menghitung. Termasuk perlunya anak-anak diajak kerja bhakti seminggu sekali dilingkungan sekolah,” jelasnya.

Suliyem mengingatkan, pada dasarnya anak usia dini tidak bisa diberi teori tapi harus langsung praktek. Karena anak akan meniru, yaitu tahu, paham, bisa, dan melakukan. Diusahakan sekolah menyediakan tempat sampah yang untuk organik dan an organik, sehingga anak paham memilah-milah. Demikian juga dengan kreatifitas, guru  bisa memanfaatkan barang yang tidak terpakai seperti kardus bekas, biji salak, botol bekas dan sejenisnya, untuk digunakan sebagai alat peraga.

Menurut Suliyem, lingkungan sebagai sumber belajar sangat berpengaruh pada perkembangan fisik, ketrampilan, social dan budaya, perkembangan emosional serta intelektual. Pemilihan sumber belajar harus memenuhi syarat mengandung unsur pendidikan, praktis dan sederhana, aman nyaman dan bersih, mampu mengembangkan aspek perkembangan anak, juga sesuai dengan taraf berpikir dan kemampuan anak.

Sementara itu Nasional Manajer TK PT Intan Pariwara Klaten Agus Sukarno mengajak peserta seminar untuk menciptakan lagu. Peserta dibagi 4 kelompok dan diberi waktu 10 menit untuk menciptakan sebuah lagu. Dia juga memberikan kesempatan bagi yang lagunya memenuhi kriteria, akan diikutkan rekaman di Klaten. “Dalam menciptakan lagu sederhana tidaklah sulit asalkan ada niat, ada alat perekam, jangan takut untuk memulai, dengarkan kritik yang membangun, dan jangan plagiat. Jika itu diperhatikan pasti bisa,” papar Agus yang sudah sering sekali menciptakan lagu-lagu sederhana.


Senin, 27 Mei 2013

Uang Rp 70 Juta Dijambret

Aksi penjambretan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Purworejo. Kali ini yang menjadi korban Masrur Fauzi (51) warga Perum Pepabri RT 02 RW 05 Desa Borokulon Kecamatan Banyuurip, Purworejo.

Akibat kejadian itu korban menderita kerugian Rp 70 juta. Kasubag Humas Polres Purworejo AKP Suyadi yang dimintai konfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut. Peristiwa bermula saat korban baru saja mengambil uang di Bank BRI Cabang Purworejo Selasa (21/5) sekitar pukul 13.00 WIB. Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, tepatnya di depan Kodim 07/08 Purworejo,  korban dipepet oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor  Suzuki Satria FU warna biru.

Sesaat kemudian dua pelaku tersebut berusaha merampas tas berisi uang yang dibawa korban. Sempat terjadi tarik menarik antara korban dan pelaku. “Namun usaha korban sia-sia karena tas tersebut berhasil dibawa kabur dua pelaku,” kata Suyadi.


Dijelaskan Suyadi, selain uang tunai Rp 70 juta, tas itu juga berisi dompet warna hijau berisikan STNK Honda Supra Fit Nopol AA 5590 JT atas nama korban, SIM C, buku tabungan dan kartu ATM BRI atas nama Susipeni. Kasus tersebut kini masih dalam pengusutan Reskrim Polres Purworejo.

Desa Sekartejo Menang Lomba UP2K

Kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatani Keluarga (UP2K) yang merupakan program Pokja II TP PKK Kabupaten Purworejo untuk PKK di desa-desa, setiap tahunnya mengalami peningkatan. Diantaranya penyelenggaraan pameran hasil-hasil UP2K yang rutin dilakukan melalui lomba UP2K.
Seperti pameran yang digelar di PKK belum lama ini, dalam rangka lomba administrasi dan hasil-hasil UP2K tingkat Kabupaten Purworejo. Lomba yang dibuka Wakil Ketua TP PKK Ny Yaminah Suhar SH tersebut, dimenangkan Desa Sekartejo Pituruh.
Ny Yaminah Suhar mengatakan UP2K memiliki potensi yang besar dalam peningkatan ekonomi di desa. Mengangkat dan memanfaatkan produk lokal seperti ubi, sukun, singkong, dan sejenisnya, yang ada di desa menjadi sangat penting dalam agenda UP2K. Termasuk kerajinan tangan dengan bahan baku lokal.

“Selain memasyarakatkan produk lokal, sekaligus mengingatkan kepada masyarakat bahwa produk lokal tidak kalah kandungan gizi dan vitaminnya dibanding produk lainnya. Asupan gizi yang dibutuhkan kita, semua tersedia pada produk lokal dan perlu pembiasaan untuk kita mengonsumsi selain beras dan terigu,” ungkapnya.

Menurutnya, hal ini juga terkait dengan program pemerintah pentingnya meningkatkan pangan lokal. Karena tidak selamanya produksi padi dan terigu akan dapat mencukupi kebutuhan rakyat. “Sehingga diharapkan melalui kegiatan UP2K, masyarakat Purworejo mampu meningkatkan ekonomi keluarga dengan pengelolaan produk lokal yang ada disekitarnya,” tandasnya.

Terkait dengan lomba UP2K, Ny Suhar mengingatkan agar lomba UP2K dapat dijadikan motivasi dan semangat untuk terus melakukan inovasi dan perbaruan ke arah yang lebih meningkat. Karena sedikit banyak PKK telah ikut andil dalam upaya memecahkan sebagian permasalahan pemerintah.

Ketua panitia Ny Zuhziah Dani Purwadi mengatakan lomba UP2K diikuti 16 desa dari 16 kecamatan. Lomba dimenangkan Desa Sekartejo Kecamatan Pituruh, disusul Desa Kemiri Lor Kecamatan Kemiri, dan Desa Pekacangan Kecamatan Bener. Penilaian didasarkan pada pengembangan usaha dari modal awal, ketertiban administrasi baik keuangan maupun kearsipan, dan hasil usaha UP2K. 

Menurutnya, lomba yang berlangsung hingga sore hari itu sebagai tolok ukur kemampuan kader PKK desa dalam mengelola dan mengembangkan dana stimulan UP2K di masing-masing desa dan sekaligus evaluasi kegiatan UP2K.


Dua Kakek Cabuli Cucunya Hingga hamil

Dua Kakek masing-masing Sunarko (61) warga Desa Pulutan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo dan Didik Purwanto (44) warga Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo memang tidak tahu diri.

Betapa tidak, demi memuaskan nafsu sahwatnya, dua kakek tiri tersebut tega menggauli cucunya, sebut saja Bunga (15) hingga hamil lima bulan.Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kini kedua kakek tersebut meringkuk dalam sel tahanan Mapolres Purworejo.

Kapolres Purworejo AKBP M. Taslim Choerudin melalui Kasubag Humas AKP Suyadi didampingi Kasatreskrim AKP Yuli Manosani saat dikonfirmasi membenarkan adanya tindak persetubuhan terhadap anak tersebut. Dijelaskan, perbuatan tidak terpuji yang menimpa korban berlangsung sejak bulan Mei 2012.

Dihadapan polisi Sunarko mengaku menyetubuhi korban sebanyak lima kali. Semuanya dilakukan di rumah Sunarko. Modus yang digunakan, Sunarko mengatakan jika korban menderita penyakit dan bisa sembuh dengan cara berhubungan badan dengan Sunarko. Karena takut korban yang tercatat sebagai siswa SMP Muhammadiyah Purwodadi itu menurut saja perkataan kakeknya. “Mungkin karena ketagihan tersangka mengulangi perbuatannya hingga lima kali. Yaitu bulan Mei, Juni dan Desember 2012,” kata AKP Suyadi.

Lain Sunarko lain pula cara yang digunakan Didik dalam menjalankan aksi bejatnya. Pria bertubuh tambun ini awalnya menyuruh korban untuk mencabuti ubannya. Usai mencabuti uban korban kemudian diberi uang dan disayang-sayang dengan cara dipeluk dan cium. Namun dasar kakek berotak ngeres, peluk cium itu membuat nafsu birahinya bangkit.

Dan tanpa pikir panjang lagi Didik langsung menyetubuhi korban. Tak puas sekali, Didik mengulanginya sampai tiga kali. Hal itu dilakukan setelah korban pulang sekolah. “Didik melakukannya pada bulan Agustus, Oktober dan Desember 2012,” terang AKP Suyadi.

Terbongkarnya perbuatan bejad duo kakek tersebut bermula dari kecurigaan nenek korban atau istri Sunarko, Waginah dan istri Didik Purwanto, Baniyah. Sebagai wanita, dua nenek ini curiga dengan perkembangan tubuh cucunya yang makin hari semakin membengkak layaknya sedang hamil. Apalagi baik Waginah maupun Baniyah beberapa kali memergoki suaminya berduaan di kamar dengan korban.

Setelah dibujuk akhirnya korban mengaku pernah beberapa kali diajak berhubungan badan oleh mbah Sunarko dan mbah Didik. Mendengar pengakuan cucunya, kejadian itu kemudian dilaporkan kepada ayah korban, Hari Pujiono yang sedang bekerja di Yogyakarta. Setelah yakin korban hamil akibat perbuatan mertuanya, Hari Pujiono kemudian melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Mendapat laporan tersebut Rabu (15/5) polisi kemudian menangkap Sunarko di rumahnya. “Pada hari yang sama tersangka Didik menyerahka diri ke kades setempat kemudian diantar ke Mapolsek Purwodadi,” tandas AKP Suyadi.

Menurut AKP Suyadi, selama ini korban tinggal bersama Sunarko, kakek tiri dari keluarga ayah. Sebelum tinggal bersama Sunarko, korban sempat diasuh oleh Didik Purwanto yang merupakan kakek dari keluarga ibu. Sementara ibu korban, Aprianti, sudah lama meninggal dunia karena kecelakaan. Akibat perbuatan cabul tersebut, korban kini hamil lima bulan. Sementara kedua kakek mesum tersebut dijerat dengan 81 UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.








Jumat, 24 Mei 2013

Siswa SMK Penabur Curi Laptop


Belum bisa melunasi uang pembayaran sekolah sebesar Rp 750 ribu membuat Andre Rinzi (19) siswa SMK Penabur Purworejo gelap mata. Tanpa pikir panjang, warga Baturaja Sumatera Selatan ini nekad mencuri laptop merek HP warna hitam milik Ade Prasetyanto (23) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo, warga Kebumen.
Tersangka dan korban merupakan teman satu kos di Kampung Kliwonan, Kelurahan Sindurjan, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Kapolres Purworejo AKBP M. Taslim Choerodin melalui Kapolsek Kota AKP Mangarif membenarkan adanya kasus tersebut. Menurut AKP Mangarif, pelaku masuk ke kamar kos korban melalui jendela yang tidak terkunci Minggu (19/5) sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu kondisi kamar kosong karena korban sedang pulang ke Kebumen.

Setelah berhasil mengambil laptop tersangka tidak langsung menjualnya, melainkan dititipkan kepada salah satu temannya diluar kos. Korban baru mengetahui laptop miliknya hilang setelah pulang dari Kebumen Rabu (22/5). Mengetahui laptop miliknya hilang korban kemudian melapor kepada pemilik kos. “Untuk mengetahui siapa pelaku pencurian pemilik kos mengumpulkan semua penghuni,” kata AKP Mangarif.

Mengetahui rencana pemilik kos, tersangka yang ketakutan kemudian berusaha mengembalikan laptop hasil curian tersebut ke kamar korban. Sayang, usahanya itu diketahui oleh penghuni kos lain, saat itu juga tersangka ditangkap dan dilaporkan ke Mapolsek Kota. Akibat kejadian itu korban menderita kerugian sekitar Rp 4, 5 juta. Sementara tersangka meringkuk dalam sel tahanan polsek kota guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dari pengakuan tersangka, dirinya nekad berbuat seperti itu karena tidak punya uang untuk melunasi tunggakan SPP selama enam bulan atau Rp 750 ribu. Selama ini tersangka tinggal sendirian di Purworejo. Untuk biaya hidup sehari-hari tersangka mengandalkan kiriman orang tuanya di kampung yang bekerja sebagai buruh tani. “Kiriman dari orang tua setiap bulanya hanya Rp 200 ribu. Itupun sering terlambat,” ucap tersangka saat ditemui di Mapolesk Kota.